Posted by: nryd | March 2, 2008

Ayat-Ayat Cinta (The Movie)

cover ayat2 cinta

Setelah dua hari ngantri panjang dan nggak kebagian tiket akhirnya kesampean juga nonton film Ayat-Ayat Cinta di BSM XXI. Beberapa jam berdiri bareng anak2 SMA yang bolos, gue harus nahan gengsi untuk jadi orang yang “tertua” di barisan. Well tapi nggak sia-sia, setelah film beres, gue puas bgt. Mantap!

Film garapan Hanung Bramantyo ini mengangkat novel karya novelis besar Habiburrahman el Shirazy ke layar lebar. Menceritakan tentang Fahri, seorang mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar Cairo asal Indonesia dan segala liku-liku kehidupannya sebagai muslim yang konsisten. Gimana dia kuliah. Bergaul sama banyak orang, banyak kultur, tapi memegang teguh prinsip Islam. Misalnya, nggak mau salaman sama cewek USA yang bukan muhrim. Fahri akhirnya menikah dengan cara-cara islami dengan Aisha, muslimah keturunan Jerman-Turki. Disini dia ngalamin banyak masalah akibat difitnah orang yang suka sama dia (Noura, cewek Mesir). Dia dipenjara kemudian dia bisa keluar dan nikah kedua kalinya dengan cewek Kristen Koptik namanya Maria.

Film ini juga ngegambarin gimana sih cara “bercinta” ala Islam. Saat orang berdalih pacaran itu ajang milih the best life mate, Islam punya metode yang paling ampuh. Lha wong yang nentuin Jodoh itu Tuhan kok, masa orang yang ngikutin petunjuknya dikasih jodoh yang jelek.

Filmnya sendiri sangat apik. Ketelitian dari tiap scene-nya dan kaitan dengan content novel terlihat sangat “diusahakan”. Misalnya untuk menggambarkan kamar kos mahasiswa Indonesia di Mesir, dinding temboknya dihiasi poster2 surat Al-Qur’an. Simple tapi cukup merepresentasikan imajinasi fans Ayat-ayat Cinta versi novel. Suasana kampung tempat kos nya juga digambarkan layaknya perkampungan arab dengan warung-warung pinggir jalan yang dinaungi tenda meluncur (mirip suasana pasar di film Alladin Disney). Bahkan hampir setiap scene film didominasi warna pencahayaan kuning, identik dengan suasana gerahnya Timur Tengah.

Seleksi aktor & aktrisnya sedikit unik. Fedi Nuril sebagai Fahri, secara visual “kena banget”, kurusnya, tirus mukanya. Bahkan rambutnya yang disisir belah pinggir tapi nggak rapih-rapih amat sepertinya sengaja nunjukkin karakter yang alim tapi nggak ketinggalan jaman bgt. Pas lah secara visual (Imajinasi konyol gue tetep ngebayangin tokoh fahri dibawain sama Komeng). Tapi lucunya, pembawaan verbalnya nampak kurang luwes, kaku. Cengkok Arabnya juga nggak bagus untuk tokoh mahasiswa “talaqi”, misalnya saat dia bilang “Astaghfirullah” pas ketemu mata sama Maria, sangat kaku.

Kalo kita baca Novelnya, pasti kita ngerasa “Fahri sentris”, tapi di film ini Fahri sepertinya cuma jadi katalis munculnya karakter utama lain, misalnya Aisha dan Maria. Sepertinya dua tokoh ini yang mendominasi film. Aisha (Rianti Cartwright) bawainnya bagus bgt. Sebelumnya gue nggak pernah suka aktingnya di sinetron. Maria (Carissa Putri) mantap juga. Penonton cowok pasti seneng sama close-up2 mukanya. Hanya aja pas dia bacain surat Mariam, terlalu “Indonesia”, hampir nggak ada cengkok Arab. Over all this two actress have two thumbs up from me.

Hal yang sedikit mengganggu adalah penokohan karakter figuran (yang seharusnya orang) Mesir/Arab. Film ini naroh muka-muka Indonesia untuk karakter penting Arab. Misalnya Bapak fanatik di kereta, mirip tipe wajah orang Manado. Kemudian, dalam sidang yang dihadiri banyak orang hampir semua wajah Indonesia. Ustadz Utsman yang jadinya mirip orang Cina. Pejabat Militer Mesir! Muka Indonesia (sipirnya aja muka Arab!). Dan yang paling penting, tokoh Noura dan keluarganya, campur aduk! Zaskia Mecca sebagai Noura secara visual nggak match bgt, although aktingnya bagus. Bapaknya, Rudi Wowor (wajah belanda), Ibunya muka Indonesia, Kakaknya muka India (kulitnya gelap sendiri). Castingnya aneh.

Sinematografinya bagus bgt, biarpun gue yakin nggak banyak scene yang diambil di Mesirnya. Alurnya juga nggak monoton, banyak adegan yang dibikin flash back via media misalnya isi surat Noura, alih-alih ceritain kata per kata, malah diganti sama adegan flah back. Bagus bgt.

Tapi yang bikin gue kagum dan kasih kesan dalem itu bobot ceritanya tersampaikan. Nggak kaya film-film Harry Potter yang tiap serinya bikin kecewa pembaca. Kebanyakan cewe yang nonton bareng nangis pas filmnya abis. Cowo-cowonya juga pas keluar studio jadi pada pasang tampang mikir. Banyak yang kasih applause lho pas ending filmnya. Bagus lah biar banyak yang kayak Fahri and makn banyak yang ngerti soal Islam.


Leave a response

Your response:

Categories